21.6.06

Makna Din dalam Al-Quran

Oleh Kautsar Azhari Noer


Kajian-kajian untuk memahami makna semantik dan etimologis kata dîn dalam al-Qur’an telah dilakukan berulang-kali oleh beberapa sarjana.1 Kajian-kajian yang dilakukan oleh para sarjana non-Muslim, pada umumnya, tidak hanya mencari makna kata dîn tetapi juga menelusuri asal-usul kata ini dan pergeseran maknanya dalam sejarah penggunaannya. Kajian-kajian itu telah melahirkan teori-teori tentang asal-usul kata ini: kata ini berasal dari kata Ibrani, Etiopia, Aramia, Suryani, atau Persia. Penelusuran asal-usul kata ini merupakan sebuah masalah yang sangat komleks dan rumit. Teori bahwa kata ini berasal dari kata asing (non-Arab) tidaklah mustahil, tetapi teori ini tidak akan banyak membantu mempermudah pemahaman kita tentang makna kata ini dalam al-Qur’an.

Karena itu, pembicaraan tentang masalah ini lebih baik ditinggalkan. Lebih tepat kita membicarakan makna kata ini dalam batas-batas bahasa Arab itu sendiri. Dengan cara ini, kata Toshihiko Izutsu, seorang sarjana Jepang dalam bidang Studi-studi Keislaman, bukanlah kita menyatakan secara tidak langsung bahwa mesti ada satu makna asal yang terikat pada akar kata d-y-n yang melahirkan berbagai makna. Ini sungguh mustahil menurut ilmu bahasa. Dalam kasus seperti ini, seorang ahli bahasa modern menganggap dari pemulaan adanya lebih dari satu akar independen di bawah satu bentuk yang umum. Gejala ini adalah satu gejala yang sangat umum dari “polisemi murni.”2

Para sarjana telah membuktikan bahwa dalam kesusasteraan Arab pra-Islam telah ada kata dîn, yang memiliki tiga arti yang dominan: (1) “adat” atau “kebiasaan,” (2) “balasan,” dan (3) “kepatuhan.” Kedatangan Islam memperkaya arti kata ini dengan tetap mempertahankan arti-arti asal pra-Islam itu. Jika kita membuka kamus-kamus bahasa Arab yang disusun sejak masa dulu sampai masa kini, kita akan menemukan bahwa kata din memiliki banyak arti, yaitu: (1) “pembalasan,” (2) “perhitungan,” (3) “keputusan,” (4) “kepatuhan,” (5) “ketundukan,” (6) “sikap berserah diri” (islâm), (7) “kerendahan,” (8) “warak,” (9) “adat’ atau “kebiasaan,” (10) “keadaan,” (11) “tingkah laku,” (12) “kekuasaan,” (13) “pemaksaan,” (14) “cara” atau “jalan,” (15) “peraturan,” (16) “hukum,” (17) “syariah,” (18) “akidah,” dan (19) “agama” (millah).3
Mari kita membicarakan makna dîn dalam al-Qur’an. Kata dîn muncul 94 kali dalam al-Qur’an, sekitar separuhnya muncul pada periode Makkah dan separuhnya mucul pada periode Madinah. Menurut Yvonne Haddad, seorang pengkaji Islam, ada empat periode yang berbeda dari pemakaian istilah dîn dalam al-Qur’an: periode Makkah pertama (dengan munculnya kata dîn 13 kali), periode Makkah kedua (dengan munculnya kata dîn 6 kali), periode Makkah ketiga (dengan munculnya kata dîn 29 kali), dan periode Madinah (dengan munculnya kata dîn 46 kali).4

Salah satu makna asal dîn dalam al-Qur’an adalah “pembalasan,” yang biasanya diartikan juga dengan “perhitungan” atau “pengadilan.” Perhatikan beberapa contoh berikut:

“Raja hari pembalasan.” (Q 1: 3)

“Dan mereka berkata: Aduhai, celakalah kita, inilah hari pembalasan.” (Q 37: 20)

“Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.” (Q 82: 9)

Makna “pembalasan,” “perhitungan,” atau “pengadilan” sangan penting dalam pandangan dunia al-Qur’an. Makna ini termasuk wilayah eskatologi yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Rukun Iman, yang salah satunya adalah iman kepada “hari akhir.” Namun, kita harus meninggalkan pembahasan makna ini karena karena tempatnya yang tepat adalah dalam wilayah eskatologi. Makna ini tidak memiliki relevansi langsung dengan topik kita di sini. Makna asal dîn yang memiliki kaitan langsung dengan topik ini adalah makna asal lain.

Makna asal lain itu dari dîn adalah “kepatuhan.” Pemahaman dîn dengan makna “kepatuhan,” jika dilihat secara ketat, tidak sepenuhnya tepat karena “kepatuhan” menampilkan hanya satu aspek kandungan makna kata ini. Aspek lain, yaitu aspek yang berlawanan dengan “kepatuhan,” tidak bisa diabaikan. Kata dîn (atau kata kerja dâna) termasuk kelompok kata-kata yang dikenal sebagai adhdâd, yaitu kata-kata yang memiliki dua makna yang berrbeda. Maka kata dîn mempunyai dua sisi yang berlawanan: sisi aktif dan sisi reseptif. Pada sisi aktif, kata dîn berarti “menundukkan, menaklukkan, menekan, memaksa, menguasai, mengendalikan” (“penundukan, penaklukan, penekanan, pemaksaan, penguasaan, pengendalian”). Pada sisi reseptif, kata dîn berarti “patuh, taat, tunduk, takluk, pasrah, menyerah” (“kepatuhan, ketaatan, ketundukan, ketaklukan, kepasrahan, penyerahan”). Tentang dua makna, atau dua kelompok makna, yang berlawanan ini, Toshihiko Izutsu, mengatakan bahwa bahwa tidak ada sesuatu yang mengagetkan tentang masalah ini. Sebagaimana banyak kata-kata lain dari kategori ini, perspektif khusus yang terbentuk pada kata ini menunjukkan suatu pandangan lengkap dan menyeluruh tentang masalah ini yang memungkinkan kita memandang sesuatu yang sama dari dua ujung.5

Dalam banyak kesempatan, kata dîn dapat dipahami sebagai dua makna yang berlawanan pada waktu yang sama, seperti “penundukan” dan “ketundukan,” “penaklukan” dan “ketaklukan,” “pemaksaan dan “kepasrahan,” “penguasaan” dan “kepatuhan.” Saya menyetujui pendapat Toshihiko Izutsu bahwa kebenaran dalam masalah ini adalah bahwa kedua makna tersebut digunakan pada waktu yang sama tanpa pemisahan keduanya ke dalam dua makna tersendiri. Inilah konsep dîn yang menyeluruh dan utuh dengan dua arah yang berlawanan.

dîn

menundukkan (sisi aktif)



menyerah (sisi reseptif)
Mari kita melihat sebuah contoh penggunaan kata dîn yang memiliki dua makna yang berbeda pada waktu yang sama, yang dapat kita sebut “makna dwi-tunggal.” Contoh ini ditemukan pada ungkapan fî dîn fulân (“dalam dîn seseorang”), yang sangat lazim digunakan dalam syair pra-Islam. Kebanyakan penafsir terdahulu yang menggeluti bidang studi sastera klasik Arab tidak mampu menangkap “makna dwi-tunggal” kata dîn dalam ungkapan ini karena mereka melihat hanya satu sisi, yaitu sisi reseptif dengan makna “kepatuhan.” Bagi mereka, ungkapan fî dîn fulân (“dalam dîn seseorang”) berarti “dalam kepatuhan kepada seseorang.” Pemahaman ini tidak akurat. Perhatikan contoh tipikal berikut ini:

“Jikalau engkau bertempat tinggal di [Lembah] Jaww di lingkungan Banu Asad/
dalam dîn ‘Amr, dan meskipun Fadak memisahkan antara kita”

Penyair di sini mengancam seseorang dari Banu Asad yang telah melakukan kesalahan kepada dirinya, dan mengatakan, “Panah beracun dari satireku akan mengenaimu dan menyusulmu meskipun engkau lari dariku dan bertempat tinggal di [Lembah] Jaww di lingkungan Banu Asad dalam dîn ‘Amr, dan meskipun Fadak memisahkan antara kita.”6 Dalam syair ini ‘Amr yang dimaksud adalah raja terkenal Hirah, ‘Amr ibn Hind ibn al-Mundzir Mâ’ al-Samâ’. Ungkapan fî dîn ‘Amr dalam konteks ini berarti “kamu menjadi tunduk kepada ‘Amr dan dengan demikian dirimu berada di bawah perlindungan kekuasaannya.” Jadi konsep dîn di sini mencakup kedua-duanya “kepatuhan” (thâ‘ah) dan “kekuasaan” (sulthân). Dengan kata lain, sesuatu yang sama dilihat dari dari dua sisi yang berlawanan.


dîn








Dilihat dari sisi Raja ‘Amr, dîn adalah sulthân, “wewenang” atau “kekuasaan perlinndungan”-nya, tetapi dilihat dari sisi orang yang berlindung untuk dirinya di bawah pengaruh kerajaan, dîn yang sama adalah thâ‘ah, “kepatuhan” kepada raja itu.7
Di dalam al-Qur’an sebenarnya terdapat banyak kata dîn yang dapat ditafsirkan dengan cara ini. Salah satu contoh adalah kata dîn dalam ayat berikut:

“Milik-Nyalah apa yang di langit dan di bumi, dan milik-Nyalah dîn itu selama-
lamanya.” (Q 16: 52)

Kata dîn dalam ayat ini dapat dipahami dalam makna rangkap dua “kepatuhan mutlak” dan “kekuasaan mutlak.” Ayat ini adalah bagian yang sangat indah dalam al-Qur’an yang melukiskan bagaimana segala sesuatu di langit dan bumi “bersujud di hadapan Allah” yang dengan demikian mengungkapkan kerendahan hati yang mendalam dan kepatuhan mutlak. Dalam surat yang sama, yaitu al-Nahl, tiga ayat lain yang mendahuluinya berbunyi, “Kepada Allahlah bersujud segala yang di langit dan di bumi, termasuk segala sesuatu yang bergerak dan malaikat-malaikat, dan mereka tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka. Allah berfirman, ‘Janganlah kamu menjadikan dua tuhan. Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Esa. Maka hendaklah kamu taku hanya kepada-Ku’.” (Q 16: 49-51)

Kembali kepada kata dîn dalam ayat di atas (Q 16: 52), kita dapat menafsirkannya sebagai kata yang mempunyai “makna dwi-tunggal.” Dilihat dari sisi Allah, kata ini berarti “kekuasaan mutlak” Allah karena Dia adalah pemilik dan penguasa segala sesuatu yang di langit dan di bumi; dan dilihat dari sisi segala sesuatu yang di langit dan di bumi, kata yang sama berarti “kepatuhan mutlak” mereka kepada Allah. Karena itu, ayat tadi, yang juka dipahami dengan cara ini, dapat ditertemahkan sebagai berikut: “Milik-Nyalah apapun yang di langit dan di bumi, dan milik-Nyalah kekuasaan mutlak [atas mereka] dan kepatuhan mutlak [oleh atau dari mereka] selama-lamanya.” (Q 16: 52)

Di dalam al-Qur’an, kata dîn pada beberapa kesempatan didefinisikan atau ditafsirkan dalam hubungan dengan ‘abada, yaitu “menyembah Allah” dalam arti “mengabdi kepada-Nya seperti seorang budak yang melayani tuannya.” Dalam konteks ini, hubungan antara Allah dan hamba-Nya digambarkan seperti hubungan antara Tuhan dan budaknya. Mari kita perhatikan ayat-ayat berikut:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (al-Qur’an) dengan
kebenaran. Maka sembahlah (fa‘bud) Allah dengan memurnikan dîn kepada-Nya.
Ingatlah, hanya milik Allahlah dîn yang murni (al-dîn al-khâlish).” (Q 39: 2-3)

“Katakanlah: Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah (a‘buda) Allah
dengan memurnikan dîn kepada-Nya.” (Q 39: 11)

“Katakanlah: Hanya Allahlah yang aku sembah (a‘budu) dengan memurnikan dîn-
ku (dînî) kepada-Nya.” (Q 39: 14)

“Katakanlah: Hai manusia, jika kamu dalam keragu-raguan tentang dîn-ku (dînî),
maka (ketahuilah) aku tidak menyembah (a‘budu) orang-orang yang kamu sembah
(ta‘budûna) selain dari Allah, tetapi aku menyembah (a‘budu) Allah.” (Q 10: 104)

“Katakanlah: Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah (a‘budu) apa yang
kamu sembah (ta‘budûna). Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah
(a‘budu). Dan aku tidak akan pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah
(‘abadtum), dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah
(a‘budu). Bagimu dîn-mu (dînukum) dan bagiku dîn-ku (dîni).” (Q 109: 1-6)
Penggabungan ‘abada dengan dîn dalam al-Qur’an, seperti terlihat pada ayat-ayat di atas, bukan tanpa tujuan. Penggabungan itu, kata Toshihiko Izutsu, dapat dipahami hanya atas anggapan bahwa terdapat hubungan batini yang mendalam antara dua konsep itu: ‘abada dengan dîn. Ayat-ayat itu hampir-hampir dapat digunakan sebagai definisi kata dîn yang menganjurkan bagaimana kata ini harus dipahami secara benar.8 Maka, dalam konteks ini kata dîn dapat ditasfsirkan sebagai “penyembahan atau ibadah (‘ibâdah) kepada Allah.” Ketika menafsirkan kata dîn dalam hubungannya dengan kata ‘abada, para penafsir klasik pada umumnya memahami dîn sebagai “ibadah kepada Allah” dan “tauhid (mengesakan Allah).” Ibn ‘Abbas, ketika menafsikan surat al-Zumar, ayat 2, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata-kata “Maka sembahlah (fa‘bud) Allah dengan memurnikan dîn kepada-Nya” adalah “memurnikan ibadah dan tauhid kepada-Nya.”9 Penafsir ini, ketika menafsirkan surat yang sama, ayat 11, mengatakan pula bahwa kata-kata “menyembah (a‘buda) Allah dengan memurnikan dîn kepada-Nya” bermakna “(menyembah Allah dengan) memurnikan ibadah dan tauhid kepada-Nya.”10 Ia, ketika menafsirkan surat yang sama, ayat 14, mengatakan bahwa ayat ini, “Katakanlah: Hanya Allahlah yang aku sembah (a‘budu) dengan memurnikan dîn-ku (dînî) kepada-Nya’” berarti “(Hanya Allahlah yang aku sembah dengan memurnikan) ibadah dan tauhid (kepada-Nya).”11

Thabari menjelaskan bahwa makna firman Allah, “Maka sembahlah (fa‘bud) Allah dengan memurnikan dîn kepada-Nya” (Q 39: 2) adalah “Berlaku khusyuklah kepada Allah, hai Muhammad, dengan kepatuhan; murnikanlah ketuhanan (ulûhah) kepada-Nya; khususkanlah Dia dengan ibadah; dan janganlah kamu jadikan bagi-Nya sekutu dalam ibadahmu, sebagaimana dilakukan oleh para penyembah berhala.”12 Thabari menjelaskan firman Allah, “Katakanlah: Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah (a‘buda) Allah dengan memurnikan dîn kepada-Nya’” (Q 39: 11) dengan mengatakan, “Katakanlah: Hai Muhammad, kepada orang-orang musyrik, kaummu, Sesungguhnya Allah telah memeritahkan kepadaku agar aku menyembah-Nya dengan mengkhususkan kepatuhan kepada-Nya, selain setiap yang kamu sembah selain Dia, termasuk tuhan-tuhan dan tandingan-tandindan.”13 Thabari mengatakan bahwa makna firman Allah, “Katakanlah: Hanya Allahlah yang aku sembah (a‘budu) dengan memurnikan dîn-ku (dînî) kepada-Nya’” (Q 39: 14) adalah “Katakanlah, hai Muhammad, kepada orang-orang musyrik, kaummu: Hanya Allahlah yang aku sembah dengan memurnikan dan mengkhususkan kepatuhanku kepada-Nya dan ibadahku; aku tidak menjadikan sekutu bagi-Nya, tetapi mengkhususkan ketuhanan kepada-Nya; dan aku membebaskan-Nya dari segala sesuatu selain-Nya, termasuk tandingan-tandingan dan tuhan-tuhan.”14

Alusi mengatakan bahwa seruan untuk memurnikan ibadah kepada Allah dengan mengkhususkan dîn kepada-Nya (dalam firman Allah, “Maka sembahlah (fa‘bud) Allah dengan memurnikan dîn kepada-Nya.” [Q 39: 2]) dikukuhkan oleh peringatan untuk memurnikan dîn kepada-Nya (dalam firman-Nya, “Ingatlah, hanya milik Allahlah dîn yang murni (al-dîn al-khâlish).” [Q 39: 2-3]).15 Alusi mengatakan bahwa firman Allah, “Katakanlah: Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah (a‘buda) Allah dengan memurnikan dîn kepada-Nya” (Q 39: 11) bermakna bahwa Nabi saw diperintahkan untuk memberi penjelasan tentang apa yang diperintahkan kepada dirinya untuk memurnikan ibadah kepada Allah.16 Alusi mengatakan pula bahwa ungkapan “dîn-mu” (dînukum) (Q 109: 6) bermakna penyekutuan (isyrâk) [Allah], dan ungkapan “dîn-ku” (dîni) (Q 109:6) bermakna pengesaan (tawhîd) [Allah].17

Dari penjelasan-penjelasan tiga penafsir klasik itu, Ibn ‘Abbas, Thabari, dan Alusi, kita melihat bahwa kata dîn dalam hubungannya dengan kata ‘abada dipahami sebagai “ibadah,” “tauhid,” dan “kepatuhan.” Ibadah adalah bentuk atau jenis tauhid yang disebut “tauhid ketuhanan” (tawhîd al-ulûhah, tawhîd al-ulûhiyyah). Ibadah kepada Allah dalam arti yang sebenarnya adalah kepatuhan kepada-Nya. Karena itu, ketiga konsep ini, yaitu ibadah, tauhid, dan kepatuhan, adalah penjelasan makna dîn dalam al-Qur’an. Namun dalam konteks hubungan kata dîn dengan kata ‘abada, kita cukup menggunakan kata “ibadah” (‘ibâdah) sebagai penjelasan makna kata dîn.

Kata dîn yang bermakna “ibadah” dalam al-Qur’an diperkuat oleh penggabungan kata ini dengan kata da‘â, yang berarti “menyembah” (‘abada), pada beberapa ayat. Perhatikan tiga ayat berikut:
“Katakanlah: Tuhanku menyuru (kita) berbuat adil dan hadapkanlah wajah kalian
(kepada-Nya) di setiap tempat peribadatan, dan sembahlah Dia (wa-d‘ûhu) dengan
memurnikan dîn kepada-Nya. Sebagaimana Dia menciptakan kalian pada permulaan,
begitu pula kalian akan dikembalikan.” (Q 7: 29)

“Maka sembahlah Allah (fa-d‘û Allâh) dengan memurnikan dîn kepada-Nya,
meskipun orang-orang kafir tidak menyukai.” (Q 40: 14)

“Dialah Yang Hidup, tiada Tuhan selian Dia; maka sembahlah Dia (fa-d‘ûhu) dengan
memurnikan dîn kepada-Nya. Segala puji bagi Tuhan semesta alam.” (Q 40:65)

Kata da‘â dalam tiga ayat di atas dipahami sebagai “menyembah.” Ibn ‘Abbas mengatakan bahwa kata wa-d‘ûhu (Q 7: 29) bermakna “dan sembahlah Dia” (wa-‘budûhu),18 kata fa-d‘û Allâh (Q 40: 14) bermakna “maka sembahlah Allah” (fa-‘budû Allâh), dan kata fa-d‘ûhu (Q 40: 65) bermakna “esakanlah Dia” (fa wahhadûhu).19 Ada kesan bahwa penafsiran Ibn ‘Abbas tentang kata da‘â dalam bentuk kata kerja perintah ud‘û dalam tiga ayat di atas tidak konsisten. Pad dua ayat pertama kata ini diartikan sebagai “sembahlah,” tetapi pada ayat ketiga kata yang sama diartikan sebagai “esakanlah.” Sebenarnya tidak begitu sebab “mengesakan Allah” adalah “menyembah-Nya,” atau “tauhid (ketuhanan)” termanifestasi dalam bentuk “ibadah.” Bahwa “tauhid” bermakna “ibadah” terlihat pula tafsiran Ibn ‘Abbas tentang ungkapan “dengan memurnikan dîn kepada-Nya” sebagai lanjutan ungkapan fa-d‘ûhu pada ayat yang sama (Q 40: 65) yang diartikannya “dengan memurnikan ibadah dan tauhid kepada-Nya.”20 Di sini Ibn ‘Abbas menggunakan dua kata “ibadah” dan “tauhid”untuk mengartikan kata dîn yang menunjukkan bahwa bahwa ibadah dan tauhid tidak dapat dipisahkan dan saling menjelaskan.
Mari kita beralih kepada makna dîn ketika digabungkan dengan kata islâm dalam al-Qur’an. Kita akan mengambil dua ayat yang mungkin paling sering dirujuk oleh banyak orang Muslim untuk mempertahankan bahwa satu-satunya agama (sebagai sebuah sistem) yang benar di mata Allah adalah Islam (sebagai sebuah sistem keagamaan yang diberi nama “Islam” [dengan hurus besar]). Dua ayat itu adalah sebagai berikut:

“Sesungguhnya dîn (yang benar) di sisi Allah adalah islâm.” (Q 3: 19)

“Barang siapa yang mencari dîn selain islâm, maka sekali-kali tidaklah akan diterima
(dîn itu) daripadanya, dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Q 3: 85)

Menurut Thabari, kata dîn pada ayat pertama (Q 3: 19) berarti “kepatuhan” (thâ‘ah) dan “kerendahan” (dzillah), dan kata islâm pada ayat yang sama berarti “ketudukan” (inqiyâd), “kerendahan” (tadzallul), dan “khusuk” (khusyû‘). Ketika menakwilkan firman Allah pada ayat ini, “Sesungguhnya dîn (yang benar) di sisi Allah adalah islâm” (Q 3: 19), ia mengatakan bahwa ayat bermakna: “Sesunggunhnya kepatuhan yang adalah satu-satunya kepatuhan di sisi-Nya adalah kepatuhan kepada-Nya, pengikraran lidah dan kalbu bagi-Nya dengan penghambaan dan kerendahan, dan ketundukan lisan dan kalbu kepada-Nya dengan kepatuhan tentang apa yang disuruh dan dilarang, kerendahan lisan dan kalbu kepada dengan itu tanpa menyombongkan diri kepada-Nya, tanpa berpaling dari-Nya, dan tanpa menyekutukan segala sesuatu selain Dia dengan Dia dalam kehambaan dan ketuhanan.”21 Thabari tidak menjadi secara khusus kata dîn (dan juga kata islâm) pada ayat yang kedua (Q 3: 85) barangkali karena sudah dijelaskan pada ayat seblemnya. Ini berarti bahwa makna kedua kata ini sama dengan makna yang telah dijelasjkannya. Sebenarnya lima kata yang disebut di sini ini, yaitu dîn, thâ‘ah, dzillah, tadzallul, islâm, inqiyâd, dan khusyû‘ mempunyai makna asal yang berdekatan yang sulit dibedakan dan dalam konteks-konteks tertentu yang satu menjadi sinonim bagi yang lain.

Sampai di sini kita harus memahanmi bahwa berdasar semua ayat-ayat al-Qur’an yang telah dibicarakan di atas, dîn dipahami sebagai kualitas personal, atau, meminjam ungkapan Wilfred C. Smith, “agama personal.” Dîn dalam arti ini bukanlah sebagai sistem, institusi, pranata, atau lembaga. Dîn dalam arti ini bukanlah identitas, tetapi adalah kualitas; ia bukanlah bentuk formal, tetapi adalah esensi atau substansi; ia bukanlah label, tetapi adalah intisari; ia bukanlah “kulit,” tetapi adalah “isi.” Lalu, timbul sebuah pertanyaan: apakah kata dîn dalam arti sebagai “sebuah sistem, yang mengandung hukum, undang-undang, peraturan, atau ajaran-ajaran yang diturunkan oleh Allah,” ditemukan dalam al-Qur’an? Atau, apakah kata dîn yang berarti “jalan hidup yang harus ditempuh oleh manusia untuk mencapai tujuan akhir hidupnya” ditemukan dalam al-Qur’an?

Mari kita perhatikan makna dîn dalam al-Qur’an menurut Ibn ‘Arabi. Sufi dari Andalusia yang digelari Syaikh Terbesar (al-Syaykh al-Akbar) ini mengatakan bahwa dîn terdiri dari dua jenis: dîn din yang datang dari Allah dan din yang datang dari ciptaan. Dîn yang datang dari Allah adalah dîn yang dipilih oleh Allah dan diberi-Nya kedudukan yang lebih tinggi daripada dîn ciptaan. Allah berkata, “Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, yang kemudian dilakukan pula oleh Ya‘qub, [dengan mengatakan,] “Hai anak-anakku, Allah telah memilih untukmu al-dîn, maka janganlah kamu mati kecuali sebagai orang-orang yang berserah diri (muslimûn)” (Q 2: 132), yang berarti sebagai “orang-orang tunduk” (munqâdûn) kepada-Nya. Dîn (yang ditulis: al-dîn), dengan al-alif dan al-lâm (kata sandang), yaitu sebuah dîn yang diketahi dan dikenal, muncul dalam firman Allah swt, “Sesungguhnya dîn (yang benar) di sisi Allah adalah islâm” (Q 3: 19). Dîn dalam ayat ini adalah ketundukan (inqiyâd). Yang datang dari Allah adalah syar‘ (hukum) yang kepadanya anda tunduk (atau yang anda patuhi). Maka dîn adalah ketundukan, kepatuhan, dan nâmûs adalah syar‘ (hukum) yang disyariatkan oleh Allah. Barangsiapa yang bersifat dengan ketundukan kepada apa yang disyariatkan oleh Allah untuknya telah melaksanakan dîn dan mendirikannya, yaitu membangunnya sebagaimana mendirikan shalat. Hamba adalah pembangun (munsyi’) dîn, sedangkan Tuhan adalah peletak (wâdhi‘) hukum-hukum. Maka ketundukan adalah perbuatan anda sendiri, dan demikian juga dîn adalah perbuatan anda.22

Di sini kita melihat bahwa dîn yang datang dari Allah adalah hukum, syariat, atau peraturan yang diletakkan oleh Allah untuk dipatuhi oleh manusia. Ini adalah dîn sebagai sistem ideal, yaitu dîn yang diwasiatkan Ibrahim kepada anak-anaknya, yaitu dîn yang dipilih oleh Allah untuk mereka seperti disebutkan dalam al-Qur’an tentang wasiat Ibrahim kepada anak-anaknya (Q 2: 132). Dîn dalam arti ideal ini adalah satu dan sama karena datang dari Tuhan yang satu, tetapi ia memanifestasikan dirinya dalam banyak bentuk sesuai dengan budaya umat yang ditujunya. Tetapi dîn yang datang dari Allah tidak akan berarti apa-apa jika tidak dipatuhi oleh manusia. Dîn yang datang dari Allah itu tidak mungkin dipatuhi tanpa dipahami atau ditafsirkan oleh manusia. Pemahaman atau penafsiran manusia tentang dîn itu adalah perbuatan manusia, ciptaan manusia.

Din yang datang dari manusia adalah ketundukan atau kepatuhan yang dilakukannya. Dîn dalam arti ini bukanlah sistem tetapi adalah dîn personal, kualitas personal, kualitas pribadi, yang tentu saja bersifat individual, bukan kolektif.

Dîn sebagai sistem yang ideal yang datang dari Allah ketika direspons (dalam arti dipahami, ditafsirkan, dan dipatuhi oleh manusia pasti menurut pemahaman atau penafsirannya) berubah menjadi dîn historis, dîn sebagai fakta sejarah, realitas sejarah. Dîn historis adalah sejarah manusia karena ia adalah aktivitas manusia yang selalu mengalami proses yang tidak pernah berhenti. Dîn dipahami dengan berbagai tafsir, yang pada gilirannya melahirkan banyak aliran, mazhab, dan sekte keagamaan.

Kita kembali kepada kepada pertanyaan di atas: apakah kata dîn dalam arti sebagai “sebuah sistem, yang mengandung hukum, undang-undang, peraturan, atau ajaran-ajaran yang diturunkan oleh Allah,” ditemukan dalam al-Qur’an? Atau, apakah kata dîn yang berarti “jalan hidup yang harus ditempuh oleh manusia untuk mencapai tujuan akhir hidupnya” ditemukan dalam al-Qur’an? Jawabnya adalah positif. Dîn yang diwasiatkan Ibrahim kepada anak-anaknya, yaitu dîn yang dipilih oleh Allah untuk mereka seperti disebutkan dalam al-Qur’an (Q 2: 132) adalah dîn sebagai sistem.

Kata dîn dalam arti sebagai sistem atau institusi dalam al-Qur’an ditemukan pula pada dua contoh berikut:

“Dan janganlah kamu percaya kecuali kepada orang-orang yang mengikuti dîn-mu.”
(dînukum) (Q 3: 73)

“Hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu dîn-mu dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai untukmu islâm sebagai dîn.” (Q 5: 3)

Kita tidak boleh melupakan sebuah kata millah, sebuah kata Arab yang biasanya, sebagaimana kata dîn, diterjemahkan dengan kata “agama” dalam bahasa Indonesia (“religion” dalam bahasa Inggris). Kata millah adalah sinonim kata dîn, yang berarti dîn (agama) sebagai sistem atau institusi. Millah adalah dîn sebagai sistem atau institusi, “agama yang terlembaga” (institutionalized religion), “agama yang terkonkritkan” (reified religion), “agama yang terformalkan” (formalized religion).

Ketika dîn menjadi sebuah sistem atau institusi yang terlembaga, terkonkritkan, terformalkan, ia telah berubah menjadi millah, yang menurut Toshihiko Izutsu23 adalah agama sebagai “sesuatu” yang objektif dalam arti sempurna kata ini, sebuah sistem formal kredo dan ritual yang merupakan prinsip kesatuan suatu komunitas religius tertentu dan berlaku sebagai dasar kehidupan sosial komunitas itu. Tidak seperti kata dîn yang masih mempertahankan konotasi asal keimanan atau keyakinan personal – eksistensial, jika boleh kita katakan demikan -- betapapun jauhnya kita menuju pada arah reifikasi, millah berkonotasi sesuatu yang kaku, objektif dan formal, dan ia selalu mengingatkan kita pada eksistensi suatu masyarakat yang didasarkan pada sebuah agama yang umum.

Hubungan antara dua konsep kunci ini, dîn dan millah, dapat digambarkan dengan diagram sedehana ini:




dîn millah
sebagai kualitas personal atau dîn yang sepenuhnya
atau perbuatan eksistensial tereifikasi




proses reifikasi




Konsep dîn yang semula bermakna “kepatuhan, ketundukan,” yang merupakan kualitas personal, telah berubah menjadi konsep dîn yang terlembaga atau tereifikasi. Toshihiko mengatakan bahwa pada taraf-taraf terakhir perkembangannya yang kian lama mendekati konsep millah, dîn hampir-hampir sinonim dengan millah. Persoalan ini semakin jelas ketika kita membandingkan firman Allah yang telah disebutkan di atas (Q 3: 73) dengan firman Allah berikut (Q 2: 120), yang merujuk pada situasi yang sebenarnya sama dengan menggunakan kata millah sebagai penggati kata dîn.24

“Orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani tidak akan rela kepada engkau hingga
engkau mengikuti millah (agama) mereka.” (Q 2: 120)

Ada sebuah ayat al-Qur’an secara tegas menyinonimkan dîn dengan millah, dan sekaligus juga dengan shirâth mustaqîm. Ayat itu adalah sebagai berikut:

“Katakanlah: Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang
lurus (shirâth mustaqîm), (yaitu) agama yang benar (dîn qayyim), agama (millah)
Ibrahim yang lurus; dan ia bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” (Q 6: 161)

Di dalam kutipan ayat terakir ini kita melaht bahwa al-Qur’an menyamakan makna tiga konsep ini: shirâth mustaqîm (jalan yang lurus), dîn qayyim (agama yang benar), dan millah (agama) Ibrahim.
Dalam konteks tertentu, kata dîn bermakna asal, yaitu “kepatuhan” atau “ketundukan.” Dîn dalam arti asal ini tetap berbeda dengan millah. Contohnya adalah kata dîndalam ayat berikut, yang telah disebut di atas:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (al-Qur’an) dengan
kebenaran. Maka sembahlah (fa‘bud) Allah dengan memurnikan dîn kepada-Nya.
Ingatlah, hanya milik Allahlah dîn yang murni (al-dîn al-khâlish).” (Q 39: 2-3)

Mari kita kembali memperhatikan pandangan Ibn ‘Abbas, Thabari, dan Alusi tentang makna kata dîn pada ayat ini, yang telah dikutip di atas. Ibn ‘Abbas mengatakan bahwa ungkapan “memurnikan dîn kepada-Nya” adalah “memurnikan ibadah dan tauhid kepada-Nya.” Dalam ayat ini, menurutnya, dîn bermakna ibadah dan tauhid, yang juga mengandung arti kepatuhan. Thabari mengatakan bahwa “memurnikan dîn kepada-Nya” dalam ayat ini berarti “memurnikan kepatuhan, ketuhanan, ibadah kepada-Nya.” Dalam ayat ini, baginya, dîn berarti kepatuhan, ketuhanan dan ibadah. Alusi mengatakan bahwa “memurnikan dîn kepada-Nya” dalam ayat yang sama berarti “memurnikan ibadah kepada-Nya.” Dalam ayat ini, baginya, dîn tidak lain dari ibadah.

Dîn dalam konteksi adalah adalah kualitas personal, keadaan spiritual, atau sikap religius yang menguasai kalbu sang hamba hubungan dengan Tuhanya. Dîn dalam arti ini bersifat individual yang berbeda dengan millah yang bersifat komunal dan kolektif. Dalam konteks ini, mustahil mengganti dîn dengan millah. Dengan kata lain, mustahil mengganti kualitas dengan identitas, mengganti esensi dengan manifestasi, mengganti substansi dengan bentuk, mengganti intisari dengan label, mengganti “isi” dengan “kulit. Barangkali, tanpa kita sadari, banyak di antara kita telah menggati kualitas dengan identitas, mengganti esensi dengan manifestasi, mengganti substansi dengan bentuk, mengganti intisari dengan label, mengganti “isi” dengan “kulit. Jika itu yang terjadi, dîn telah berubah menjadi malapetaka. Kita berlindung kepada Allah dari itu.
Wa Allâh a‘lam bi al-shawâb.





CATATAN

1Di antara kajian-kajian itu adalah Wilfrid Cantwell Smith, The Meaning and the End of Religion (New York: Mentor Books, 1963), h. 90-94, 99-100, 287-290; Toshihiko Izutsu, God and Man in the Koran (Tokyo: Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1964), h. 219-229; Arthur Jeffery, The Foreign Vocabulary of the Qur’an (Baroda: Oriental Institute, 1938), h. 131-132; Helmer Ringgren, “The Pure Religion,” Oriens, XV (1962), 93 ff; Dincan B. Macdonald, “Din,” Encyclopaedia of Islam, I, h. 975; L. Gardet, “Din,” Encyclopaedia of Islam, New Edition, II, h. 293-296; Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat, dan Agama (Surabaya: Bina Ilmu, 1979), h. 112-117; Syed Muhammad al-Naquib al-Attas, “Islam: Konsep Agama dan Dasar dari Etika dan Moralitas,” dalam Altaf Gauhar, Tantangan Islam, diterjemahkan olehAnas Mahyuddin (Bandung: Pustaka, 1982), h. 35-49; M. Dawam Rahardjo, Ensiklopedi al-Qur’an (Jakarta: Paramadina, 1996), h. 107-131.
2Toshihiko Izutsu, God and Man in the Koran (Tokyo: Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1964), h. 220-221.
3Sumber-sumber yang dirujuk adalah sebagai berikut: Ibn Manzhur, Lisân al-‘Arab, 15 jilid (Birut: Dar Shadir, t.th), 13: 170-171; Ibrahim Anis, et. al., al-Mu‘jam al-Wasîth, Juz 1 (Mesir: Majma‘ al-Lughah al-‘Arabiyyah, 1972), h. 307; Ahmad ‘Athiyyah Allah, al-Qâmûs al-Islâmî, Jilid 2 (Kairo: Maktabat al-Nahdhah al-Mishriyyah, 1966), h. 423-424; Abu al-Husayn Ahmad Fariz ibn Zakariya, Mu‘jam Maqâyis al-Lughah, Juz 2, diedit oleh ‘Abd al-Salam Muhammad Harun (Kairo: Maktabat al-Habikhi, 1981), h. 319-320; Jamâ‘ah min Kibâr al-Lughawiyyîn al-‘Arab, al-Mu‘jam al-‘Arabî al-Asâsî (Beirut: Larousse, t.th.), h. 475.
4Yvonne Haddad, “The Conception of the Term Dîn in the Qur’an,” The Muslim World, 64, 2 (1974), h. 114.
5Izutsu, God and Man, h. 222.
6Dikutip oleh Izutsu, Gon and Man, h. 223, dari Dîwâal-Zubayr, vol. 1, h. 138.
7Izutsu, Gon and Man, h. 223-224.
8Izutsu, God and Man, h. 226.
9Ibn ‘Abbas, Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs (Beirut: Dar Kutub al-‘Ilmiyyah, 1421/2000), h. 484.
10Ibn ‘Abbas, Tafsîr Ibn ‘Abbâs, h. 487.
11Ibn ‘Abbas, Tafsîr Ibn ‘Abbâs, h. 487.
12Thabari, Tafsîr al-Thabarî, 12 jilid (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1420/1999), 10: 610.
13Thabari, Tafsîr al-Thabarî, 10: 623.
14Thabari, Tafsîr al-Thabarî, 10: 623.
15Alusi, Rûh al-Ma‘ânî fî Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm wa al-Sab‘ al-Matsânî, 16 jilid (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), 13: 344.
16Alusi, Rûh al-Ma‘ânî, 13: 368.
17Alusi, Rûh al-Ma‘ânî, 16: 456.
18Ibn ‘Abbas, Tafsîr Ibn ‘Abbâs, h. 165.
19Ibn ‘Abbas, Tafsîr Ibn ‘Abbâs, h. 501.
20Ibn ‘Abbas, Tafsîr Ibn ‘Abbâs, h. 501.
21Thabari, Tafsîr al-Thabarî, 1: 211-212.
22Ibn ‘Arabi, Fushush al-Hikam, diedit dan diberi pengantar dan penjelasan oleh Abu al-‘Ala ‘Afifi, dua bagian {Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1400/1980), 1: 94-95.
23Izutsu, God and Man, h. 228.
24Izutsu, God and Man, h. 229.

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home